Memimpin dengan Duduk Sejajar: Refleksi Pendidikan Seni dari Kampung Yokiwa, Papua

Saya datang ke kampung Yokiwa, Papua sebagai seorang seniman dan guru seni anak-anak  yang diundang untuk berbagi ruang belajar. Selama satu minggu tinggal dan beraktivitas bersama  mereka, saya membawa pengalaman mengajar di ruangan formal dan non formal. Latar belakang kajian budaya, serta kesadaran akan posisi saya sebagai perempuan dari Kalimantan yang tumbuh dekat dengan alam. Kehadiran ini tidak hanya menjadi praktik berbagi pengetahuan, tetapi juga ruang refleksi tentang bagaimana pendidikan, seni dan etika saling bertaut dalam relasi yang  setara. 

Membuat kolase bersama (Foto: Dokumentasi Penulis)

Dalam foto ini, saya duduk bersama anak-anak Papua, berbagi ruang belajar melalui  aktivitas seni sederhana: membuat kolase dari biji-bijian dan bahan alami yang juga kami  temukan di sekitar. Saya memilih membawa materi alam, menjadi medium untuk mengajak anak anak sama-sama belajar dari lingkungan mereka sendiri sebagai sumber pengetahuan dan  kreativitas. Dalam proses ini, saya tidak berdiri sebagai pusat perhatian, melainkan bagian dari  lingkungan belajar yang tumbuh bersama. 

Sebagai guru seni, saya terbiasa berada dalam posisi memberi arahan. Namun,  pengalaman di Yokiwa mengajarkan bahwa pendidikan seni justru menjadi lebih bermakna ketika pendidik berani melepaskan kontrol berlebih. Alih-alih langsung membawa agenda  pembelajaran, saya sengaja menghabiskan hari-hari dengan mengikuti ritme kehidupan anak anak. Hari-hari awal kami gunakan untuk saling mengenal, bermain dan belajar bersama alam:  mengamati bunga, bermain permainan tradisional dan sederhana, memetik buah kedondong dan  menutup hari dengan mandi sore di danau Sentani. Pada hari-hari berikutnya, kami berjalan ke  gunung, memetik biji-bijian kering, mengambil kangkung untuk dimasak dan dimakan bersama,  serta mengenali praktik keseharian seperti penggunaan daun gedi sebagai sampo alami.  

Bermain kostum-kostuman dari daun pucuk kelapa (Foto: Dokumentasi Penulis)

Kami juga masuk ke hutan untuk memetik buah nangka, lalu duduk di tepi danau menyusun kolase dari kulit kayu dan biji-bijian. Proses berkarya berlangsung berdampingan  dengan bermain air dan mengenakan kostum sederhana dari daun pucuk kelapa muda. Hari-hari  lain diwarnai dengan memancing, hujan yang membuat listrik padam, serta aktivitas bersama di  danau Sentani. Saya diajak mengunjungi sekolah mereka, bermain rumput, memetik buah jambu,  mendaki bukit dan kemudian menggambar bersama seorang maestro seniman Sentani. Saya juga  menyaksikan proses kolektif yang lebih luas, Ketika seniman residensi bekerja bersama seniman  lokal dan anak-anak berlatih menyanyi serta menari untuk acara pameran.

Rangkaian pengalaman ini mengajarkan saya bahwa pendidikan seni tidak selalu  berangkat dari ruang kelas atau jadwal yang terstruktur. Ia tumbuh dari kepercayaan, kedekatan  dan kesediaan untuk belajar bersama. Anak-anak tidak diposisikan sebagai penerima, melainkan  sebagai subjek yang aktif, memilih, mencoba dan mengekspresikan diri melalui cara mereka  sendiri. Dalam konteks ini, peran saya lebih dekat sebagai fasilitator yang menjaga ruang tetap  aman dan setara, bukan sebagai otoritas tunggal.

Face Painting untuk pendukung perfomance (Foto: Dokumentasi Penulis)

Latar belakang saya dalam kajian budaya membuat saya peka terhadap relasi kuasa yang  sering hadir secara tidak disadari dalam praktik pendidikan. Niat baik dapat berubah menjadi  dominasi jika pendidik tidak reflektif terhadap posisi dan privilese yang dibawanya. Dengan duduk sejajar dan mengikuti keseharian mereka, saya berupaya untuk tidak menjadikan anak-anak  semata sebagai objek kegiatan atau representasi, melainkan sebagai subjek yang terlibat dalam  proses belajar bersama. Kesadaran ini juga saya bawa dalam cara saya mendokumentasikan pengalaman selama tinggal di Yokiwa, agar proses tersebut tetap menghormati relasi,  persetujuan dan martabat mereka. Penggunaan bahan-bahan alami juga menjadi refleksi hubungan saya dengan alam.

Sebagai Perempuan dari Kalimantan, saya tumbuh dengan kesadaran bahwa alam bukan skedar  latar atau sumber daya, melainkan bagian dari kehidupan yang perlu dihormati seperti yang  dikatakan orang Papua “ko jaga alam, alam jaga ko”. Melalui seni, anak-anak belajar bahwa  lingkungan sekitar memiliki nilai, makna dan potensi kreatif yang layak dijaga. Bagi saya,  pengalaman ini juga merupakan bentuk mencintai dan menghormati diri sendiri sebagai pendidik  dan Perempuan. Dengan tidak memaksakan peran, saya belajar menjaga batas, merawat empati dan tetap berpijak pada nilai yang saya yakini. Yokiwa mengajarkan saya bahwa pendidikan seni  bukan hanya tentang menciptakan karya, tetapi juga tentang membangun yang adil dan  manusiawi. Di ruang belajar sederhana ini, seni menjadi Bahasa bersama dan kepemimpinan  hadir bukan sebagai perintah, melainkan sebagai kehadiran yang penuh hormat dan tanggung  jawab.

Penulis: Fasmaqullah | Pemenang YADEMA ActWISE+ Photo Essay Contest

Berita Terkait

ActWISE+

ActWISE+ Leadership Café Sesi 4

Sesi terakhir ActWISE+ Leadership Café berhasil diselenggarakan pada Sabtu (29/11) minggu lalu. Kali ini, peserta...

Selengkapnya
ActWISE+

ActWISE+ Leadership Café Sesi 3

Sesi ini hadir dengan energi baru! Yup, selaras dengan tajuk “WISE+ Ethical Decision-Making Tool”, para...

Selengkapnya
ActWISE+

ActWISE+ Leadership Café Sesi 2

Sabtu (15/11), sesi kedua Leadership Café fokus pada dua topik penting dalam kepemimpinan: Active Listening...

Selengkapnya
ActWISE+

ActWISE+ Leadership Café Sesi 1

Sabtu (8/11) lalu, sesi pertama rangkaian Leadership Café telah dilaksanakan dengan tema “Values in Action:...

Selengkapnya