Human Flourishing: Cara Baru Memaknai Kemajuan Bangsa

Foto: Visit Bali

Selama puluhan tahun, Produk Domestik Bruto (PDB) dianggap sebagai tolak ukur kesuksesan sebuah bangsa. Saat PDB naik, kita merasa di atas angin; saat PDB turun, kita dirundung nestapa. Namun, meski roda ekonomi terus berputar, masyarakat dunia justru kian cemas, kesepian dan dihantui perasaan bahwa ada sesuatu yang pudar dari hidup mereka.

Pada April 2025, Harvard University dan Baylor University merilis Global Flourishing Study (GFS), salah satu riset monumental mengenai kesejahteraan manusia. Melibatkan lebih dari 200.000 peserta di 22 negara dan diterbitkan dalam jurnal Nature Mental Health, studi ini menawarkan cara pandang baru tentang kemajuan—melampaui sekadar angka ekonomi—sekaligus menjawab pertanyaan mendasar: apa rahasia di balik hidup yang berkualitas?

Jawabannya, yang kini berpijak pada data dan bukan sekadar asumsi, adalah human flourishing atau kesejahteraan manusia yang hakiki.

Apa Itu Human Flourishing?

GFS mendefinisikan human flourishing sebagai: “Pencapaian optimal di mana seluruh aspek kehidupan seseorang berada dalam kondisi baik, termasuk lingkungan tempat ia bertumbuh.”

Definisi ini mengakui bahwa kesejahteraan bersifat multidimensi. Artinya, kesejahteraan individu tidak dapat dipisahkan dari faktor lingkungan sosial, ekonomi, serta institusi di sekitarnya. Studi GFS menjabarkan gagasan ini ke dalam enam dimensi yang diakui secara universal:

  1. Kebahagiaan dan Kepuasan Hidup
  2. Kesehatan Mental dan Fisik
  3. Makna dan Tujuan Hidup
  4. Karakter dan Kebajikan
  5. Hubungan Sosial yang Erat
  6. Stabilitas Finansial

Lima dimensi pertama dipahami sebagai tujuan utama—elemen yang dicari manusia karena nilai dasarnya. Sementara itu, meski sangat vital, stabilitas finansial diposisikan sebagai enabler (pendukung) dan bukan tujuan akhir. Dengan kata lain, kondisi finansial yang stabil memungkinkan kesejahteraan tercapai, tetapi tidak pernah cukup untuk memaknainya secara menyeluruh.

Dari Nilai Abstrak Menuju Pengukuran Nyata

GFS menjawab skeptisisme terhadap istilah-istilah seperti tujuan hidup, karakter, atau komunitas yang selama ini dianggap subjektif atau relatif secara budaya. Dengan menggunakan sampel representatif nasional dan metode psikometrik, studi ini membuktikan bahwa dimensi-dimensi tersebut dapat diukur secara andal, dibandingkan antarnegara, dan dipantau dari waktu ke waktu. Flourishing Index, sebuah metrik komposit yang dianalisis berdasarkan demografi peserta dan pengalaman masa kecil, mampu mengukur secara kuantitatif seberapa baik kualitas hidup seseorang yang sebenarnya, bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi dari sisi kemanusiaan, serta bagaimana para peserta memandang kesejahteraan mereka sendiri.

Poin pentingnya, studi ini bersifat longitudinal, yang berarti penelitian ini mengikuti individu yang sama selama bertahun-tahun. Hal ini memungkinkan para peneliti untuk mengamati bagaimana kondisi kehidupan, institusi, dan pengalaman membentuk kesejahteraan seseorang seiring berjalannya waktu. Melalui parameter-parameter ini, GFS menegaskan bahwa kesejahteraan bukanlah visi moral yang samar, melainkan sebuah konstruksi empiris yang nyata.

Apa yang Terungkap dari Data

Jangkauan geografis dan budaya GFS yang luas membawa diskusi ini melampaui asumsi Barat tentang kesejahteraan. Pola di berbagai negara menunjukkan bahwa kesejahteraan berkaitan erat dengan:

  1. Hubungan sosial yang erat
  2. Rasa memiliki makna dan tujuan hidup
  3. Kesehatan fisik dan mental
  4. Keamanan finansial yang memadai

Satu pola mencolok yang muncul dari gelombang data awal menunjukkan bahwa bagi kelompok usia 18–49 tahun, “tingkat kesejahteraan yang hakiki cenderung stagnan” dan baru “meningkat seiring bertambahnya usia setelahnya.” Temuan ini menantang asumsi lama tentang hubungan berbentuk kurva-U antara usia dan kepuasan hidup. Meskipun temuan ini tidak sepenuhnya universal, pola global yang menunjukkan bahwa “generasi muda tengah berjuang” merupakan hal yang mengkhawatirkan.

Pola lainnya bervariasi tergantung konteks nasional, mengingatkan para pembuat kebijakan bahwa kesejahteraan yang hakiki dibentuk oleh budaya, institusi, dan sejarah—bukan oleh formula kebijakan yang seragam.

Dari Pengukuran Menuju Tata Kelola

Salah satu kontribusi terkuat dari penelitian ini adalah keberhasilannya mengubah bahasa moral menjadi sasaran tata kelola. Kondisi yang diidentifikasi oleh GFS tidak muncul begitu saja dari mekanisme pasar, melainkan dibentuk oleh pilihan kebijakan, norma organisasi, dan prioritas kepemimpinan.

Inilah jembatan yang menghubungkan penelitian dengan tata kelola yang bertanggung jawab; dari data menuju kerangka kepemimpinan etis yang menempatkan kemakmuran manusia sebagai hasil utama, bukan sekadar efek samping.

PDB mungkin masih bisa memberi tahu kita seberapa banyak yang diproduksi, tetapi kesejahteraan yang hakiki memberi tahu kita apakah produksi tersebut benar-benar memenuhi kehidupan manusia.

Kepemimpinan yang efektif bukan lagi sekadar soal efisiensi atau pertumbuhan, melainkan tentang menciptakan kondisi yang memungkinkan orang menjalani hidup yang baik—secara etis, berkelanjutan, dan global.

Mengapa Pemimpin Harus Peduli?

GFS tidak mengklaim bisa menawarkan utopia. Kesejahteraan yang hakiki, secara definisi, adalah sebuah ideal yang mungkin tidak akan pernah tercapai dengan sempurna. Namun, studi ini menawarkan sebuah bahasa bersama yang berbasis bukti untuk memikirkan kembali arti kesuksesan dan kemajuan.

Bagi para pemimpin di dunia bisnis, pemerintahan, dan masyarakat sipil, pesannya jelas: Jika kemajuan tidak meningkatkan kemakmuran manusia, maka itu bukanlah kemajuan yang nyata. Dengan adanya GFS, kini kita bisa mengukur perbedaannya.

Apa yang Bisa Kita Lakukan

Pertanyaan besar yang diajukan GFS bukan lagi sekadar bagaimana negara bertumbuh, tetapi bagaimana manusia dapat hidup dengan baik. Pertanyaan inilah yang juga akan menjadi salah satu diskusi utama dalam Global Ethics Forum (GEF) 2026 di Bali. Informasi lebih lanjut dan pendaftaran untuk GEF 2026 akan segera hadir.

Artikel ini diterjemahkan dari artikel Globethics dengan judul “Why Human Flourishing Should Replace GDP as the Metric for Success”. Baca di sini.

Berita Terkait

GEF 2026, Human Flourishing

Bisnis yang Mengutamakan Manusia: Meninjau Kembali Tata Kelola Perusahaan dengan Human Flourishing

Selengkapnya
GEF 2026

Wamen Komdigi: Etika AI Perlu Diterjemahkan Menjadi Regulasi

Selengkapnya