Menjelang Global Ethics Forum 2026, YADEMA dan Globethics Ajak Publik Memahami “Human Flourishing” melalui Storytelling  

Yogyakarta, 4 Juli 2026 – Menjelang penyelenggaraan Global Ethics Forum (GEF) 2026 di Bali pada 20–22 Oktober 2026, Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA) bersama Globethics menyelenggarakan “Menuju to Global Ethics Forum 2026: Human Flourishing through Storytelling” di Porta Hotel, Yogyakarta, Sabtu (4/7). Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi dengan Baylor University dan Universitas Gadjah Mada sebagai Mitra Pengetahuan, serta National Geographic Indonesia sebagai Mitra Media.

Kegiatan ini mengajak akademisi, praktisi, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk memahami konsep human flourishing sekaligus mengeksplorasi bagaimana cerita dan narasi visual dapat menjadi sarana membangun pemahaman yang lebih utuh tentang kehidupan manusia. Acara dibagi ke dalam dua sesi utama, yaitu Expert Talks: Unlocking the Concept dan Editorial Masterclass: The Story Lab.

Pada sesi Expert Talks, Distinguished Professor Dr. Byron Johnson, Direktur Institute for Global Human Flourishing, Baylor University, memaparkan perkembangan terbaru Global Flourishing Study, salah satu studi internasional terbesar mengenai kesejahteraan manusia yang melibatkan lebih dari 200.000 responden dari 22 negara. Berbeda dari pendekatan yang hanya mengukur kebahagiaan, penelitian ini memandang kesejahteraan manusia secara multidimensional melalui berbagai aspek kehidupan.

Dr. Johnson menjelaskan bahwa hasil studi menunjukkan Indonesia termasuk negara dengan tingkat human flourishing yang tinggi. Ia juga menyoroti sejumlah temuan yang muncul secara konsisten di berbagai negara, seperti tantangan kesejahteraan yang dihadapi generasi muda, pentingnya relasi sosial dan keluarga, serta kontribusi nilai-nilai spiritual terhadap kehidupan manusia.

Perspektif tersebut kemudian diperkaya oleh Assoc. Prof. Dr. Dicky Sofjan, Pendiri dan Dewan Pembina YADEMA, Wakil Presiden Globethics, sekaligus dosen Interreligious Studies Universitas Gadjah Mada. Ia menekankan bahwa konsep human flourishing perlu dipahami melalui lensa budaya dan konteks lokal, bukan semata-mata mengadopsi kerangka pemikiran Barat.

Foto: Donny Fernando/National Geographic Indonesia

Menurutnya, pemahaman masyarakat Indonesia tentang kehidupan yang baik tidak dapat dipisahkan dari relasi antarmanusia, nilai-nilai keagamaan, serta keterhubungan dengan alam. Oleh karena itu, penelitian mengenai human flourishing perlu terus melibatkan perspektif dari Global South agar mampu merepresentasikan keberagaman pengalaman manusia secara seimbang.

Melengkapi diskusi, Elis Zuliati Anis, Ph.D, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan, membahas peran fotografi dalam merepresentasikan pengalaman manusia. Ia menjelaskan bahwa gambar tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga membentuk cara publik memahami realitas sosial.

Ia mengajak para pembuat cerita visual untuk menerapkan pendekatan yang etis dalam mendokumentasikan kehidupan masyarakat, dengan mengedepankan penghormatan terhadap martabat manusia, empati, serta representasi yang lebih berimbang. Menurutnya, fotografi memiliki kemampuan untuk menangkap berbagai dimensi human flourishing yang sering kali tidak dapat dijelaskan melalui angka atau data statistik semata.

Foto: Donny Fernando/National Geographic Indonesia

Pada sesi kedua, Editorial Masterclass, Managing Editor National Geographic Indonesia, Mahandis Yoanata, membimbing peserta memahami proses kreatif di balik penyusunan cerita visual. Melalui berbagai studi kasus dan latihan, peserta diajak mengembangkan ide, membangun narasi, serta mempertimbangkan aspek etika dalam menghasilkan karya visual yang bermakna.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, YADEMA dan Globethics juga secara resmi meluncurkan Global Ethics Forum 2026 Photo Essay Competition. Kompetisi ini mengundang fotografer, jurnalis, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk mengangkat kisah-kisah tentang human flourishing melalui esai foto yang mengedepankan nilai kebenaran, martabat manusia, dan empati.

Karya-karya terpilih akan dipamerkan pada penyelenggaraan Global Ethics Forum 2026 di Bali dan berkesempatan ditampilkan melalui kanal resmi National Geographic Indonesia serta YADEMA dan Globethics.

Melalui rangkaian Menuju to Global Ethics Forum 2026, YADEMA dan Globethics berharap diskusi mengenai human flourishing tidak berhenti pada tataran akademik, tetapi juga menginspirasi lahirnya praktik-praktik storytelling yang lebih etis, inklusif, dan mampu memperkuat pemahaman tentang kehidupan manusia di tengah berbagai tantangan global.

Berita Terkait

Article, GEF 2026, Human Flourishing

Kolaborasi Lintas Disiplin untuk Human Flourishing: Langkah Awal Menuju Global Ethics Forum 2026

Menjelang penyelenggaraan Global Ethics Forum (GEF) 2026 di Bali pada 20–22 Oktober 2026, Yayasan Dharma...

Selengkapnya
GEF 2026, Human Flourishing

Bisnis yang Mengutamakan Manusia: Meninjau Kembali Tata Kelola Perusahaan dengan Human Flourishing

Foto: Markus Spiske (via Unsplash)

Diskusi tentang human flourishing (kesejahteraan manusia yang hakiki)...

Selengkapnya
GEF 2026

Wamen Komdigi: Etika AI Perlu Diterjemahkan Menjadi Regulasi


Ketika kecerdasan artifisial (AI) berkembang begitu pesat, bagaimana regulasi bisa mengimbanginya?

Perkembangan kecerdasan artifisial tidak...

Selengkapnya
GEF 2026

Human Flourishing: Cara Baru Memaknai Kemajuan Bangsa

Foto: Visit Bali

Selama puluhan tahun, Produk Domestik Bruto (PDB) dianggap sebagai tolak...

Selengkapnya