Menjelang penyelenggaraan Global Ethics Forum (GEF) 2026 di Bali pada 20–22 Oktober 2026, Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA) menyelenggarakan Workshop on Defining Human Flourishing di Porta Hotel, Yogyakarta pada Jumat (26/6). Kegiatan ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai institusi untuk membangun pemahaman bersama mengenai konsep human flourishing sekaligus menjajaki kolaborasi riset menuju GEF 2026.
Workshop dihadiri oleh perwakilan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), UIN Sunan Kalijaga, Human Flourishing Center, Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), dan Deakin University. Selain itu, beberapa mitra YADEMA juga berkesempatan untuk bertemu dan memperkenalkan kajian terkait human flourishing yang sedang dikembangkan.
Pendiri dan Dewan Pembina YADEMA, Assoc. Prof. Dr. Dicky Sofjan, menjelaskan bahwa penyelenggaraan GEF di Bali merupakan tonggak penting karena untuk pertama kalinya forum tahunan tersebut diselenggarakan di luar Jenewa, Swiss. Menurutnya, momentum ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk berkontribusi lebih aktif dalam pengembangan wacana global mengenai human flourishing.
“Mudah-mudahan kita bisa membangun kolaborasi untuk penelitian bersama untuk melihat lebih jauh lagi, lebih dalam lagi tentang Human Flourishing. Dan harapan kita adalah paling tidak kita bisa punya position paper yang bisa kita presentasikan ke hadapan audiens internasional,” ujar dosen Interreligious Studies (IRS) UGM tersebut.
Dalam diskusi, para peserta menekankan bahwa human flourishing tidak dapat dipahami hanya sebagai kebahagiaan (happiness). Sebaliknya, konsep ini mencakup berbagai dimensi kehidupan yang saling berkaitan, seperti kesehatan fisik dan mental, makna dan tujuan hidup, karakter dan kebajikan, hubungan sosial yang erat, serta stabilitas ekonomi dan material. Para peserta juga menyoroti pentingnya mengembangkan indikator yang relevan dengan konteks Indonesia dan Asia-Pasifik tanpa mengabaikan standar penelitian internasional.
Workshop juga membahas bagaimana konsep Human Flourishing dipahami dari berbagai perspektif, termasuk filsafat, psikologi, agama, ekologi, serta nilai-nilai budaya dan kearifan lokal Indonesia. Pendekatan yang beragam ini diharapkan dapat memperkaya pengembangan konsep Human Flourishing yang relevan dengan konteks Indonesia sekaligus berkontribusi pada diskursus global.
Selain membangun pemahaman konseptual, workshop menghasilkan sejumlah agenda kolaborasi ke depan, termasuk penyusunan position paper, pengembangan riset interdisipliner, publikasi akademik bersama, serta pembentukan jejaring penelitian internasional mengenai human flourishing. Para peserta juga mengusulkan penyelenggaraan panel tematik dan berbagai kegiatan kolaboratif pada Global Ethics Forum 2026 yang akan memperkuat kontribusi Indonesia dalam diskursus etika global.
Melalui inisiatif ini, YADEMA berharap konsep human flourishing dapat semakin berkembang sebagai kerangka berpikir yang mendorong kebijakan publik, penelitian, dan aksi kolaboratif untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sehat, inklusif, berkelanjutan, dan bermartabat.
Global Ethics Forum 2026 akan diselenggarakan pada 20–22 Oktober 2026 di Bali, mempertemukan akademisi, pembuat kebijakan, pemimpin agama, pelaku bisnis, organisasi masyarakat sipil, dan generasi muda dari berbagai negara untuk membahas tantangan etika global serta solusi menuju masa depan yang memungkinkan manusia dan masyarakat sejahtera secara hakiki.
Baca juga liputan Workshop on Defining Human Flourishing dalam liputan Tribun Jogja di sini.






